35 Staf Bank DKI Belajar Analisis Laporan Keuangan di MM FEB UGM Kampus Jakarta

Written by Hendra Budiarto on . Posted in Berita EDP, News

IMG_0141

Analisis laporan keuangan merupakan bagian tak terpisahkan dari analisis bisnis. Secara umum, analisis bisnis merupakan proses evaluasi atas prospek dan risiko perusahaan dalam rangka pengambilan keputusan bisnis.  Ada begitu banyak ragam keputusan bisnis yang dapat dihasilkan dari sebuah analisis bisnis, mulai dari keputusan investasi sampai keputusan merger dan akuisisi. Khusus untuk industri perbankan, analisis bisnis berguna untuk mengevaluasi creditworthiness dari calon nasabah yang tengah mengajukan kredit, nasabah yang mengajukan ekspansi kredit, maupun perpanjangan kredit.

Terkait hal tersebut di atas dan dalam rangka peningkatan kompetensi sumber daya manusia di Bank DKI, pada tanggal 19-24 November 2018 telah diselenggarakan kegiatan Pelatihan Analisis Laporan Keuangan (ALK) DKI Level 1 di MM FEB UGM Kampus Jakarta dengan jumlah peserta pelatihan sebanyak 35 orang. Kegiatan ALK DKI merupakan kerjasama antara Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MM FEB UGM) Kampus Jakarta dengan PT. Bank DKI.

Acara pembukaan pelatihan ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 19 November 2018 pukul 08.30 dihadiri oleh Ibu Atik Susanti perwakilan dari Department of Learning Operation PT Bank DKI, Bapak Fu’ad Rakhman selaku pengampu pelatihan hari pertama, serta para peserta pelatihan ALK DKI. Setelah acara pembukaan dilaksanakan, dilanjutkan dengan pemberian materi pelatihan. Para pengampu ALK DKI Level 1 ini adalah para dosen MM FEB UGM yang sangat kompeten di bidang analisa keuangan, yaitu Bp. Sumiyana, PhD, Ibu Arizona Mustika Rini, MBuss, dan Prof. Indra Wijaya Kusuma, PhD. Di antara materi yang diberikan adalah mengenai Tinjauan Laporan Keuangan Analisis Profitabilitas, Pembiayaan; Utang, Leasing, Equity, dan topik penting lainnya. Pada sesi akhir dalam bentuk group discussion, peserta diminta untuk menganalisa dan mempresentasikan laporan keuangan industri.

Pelatihan hari terakhir dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 24 November 2018 sekaligus ditutup dengan post test (ujian) selama 1 jam. Dengan selesainya acara pelatihan Analisis Laporan Keuangan (ALK) DKI, diharapkan para peserta pelatihan Bank DKI mendapatkan pemahaman yang lebih dalam mengenai analisis laporan keuangan dan dapat menunjang kinerja para peserta serta kinerja Bank DKI pada umumnya.

IMG_0141

ALK

Awang Dewangga: Penerima Beasiswa MM FEB UGM Tahun 2018

Written by Irvan Hanavi on . Posted in News

ugm
 

Awang DewanggaKomunitas Untuk Jogja

Komunitas Untuk Jogja adalah suatu perkumpulan pemuda yang berkeinginan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat terutama di wilayah Yogyakarta. Kegiatan yang telah dilakukan oleh Komunitas Untuk Jogja ini sangat beragam dan mempunyai dampak yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Komunitas ini sendiri sudah berdiri sejak tahun 2013, dan sejak tahun 2013 hingga 2014 Komunitas Untuk Jogja sudah mulai aktif mendampingi program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan juga berfokus pada intensifikasi pertanian (SRI). Kemudian pada tahun 2015 hingga tahun 2016, ada beberapa program yang dilakukan oleh Komunitas Untuk Jogja, seperti program Bina Desa di Madura dan Banguntapan Yogyakarta. Di Madura sendiri berfokus kepada pertanian, sedangkan yang berada di Banguntapan bertemakan Pisangisasi. Komunitas Untuk Jogja juga mengadakan kerjasama kemitraan dengan Omah jamu Semarang-Jogja. Pada rentang tahun ini, Komunitas Untuk Jogja memang memfokuskan bidang kerjanya ke 3P (Pertanian, Perikanan dan Perkebunan). Maka dari itu, tempat-tempat yang menjadi sasaran oleh Komunitas Untuk Jogja ada di daerah pedesaan. Pada tahun 2016 hingga tahun 2017, Komunitas Untuk Jogja mengembangkan fokus pada lima bidang, yaitu pengelolaan sampah, pembuatan pupuk organik, pertanian organik, lingkungan dan bina desa. Dalam rentang tahun ini, Komunitas Untuk Jogja berhasil membangun kerjasama dengan Kecamatan Patuk dan Imogiri terkait dengan Bina Desa. Untuk Kecamatan Patuk sendiri, diadakan beberapa program, yaitu pertanian, pengolahan sampah, penumbuhan bunga amarillys, pengolahan sirsak, dan pengolahan rambutan.

Atas usahanya dalam memberdayakan masyarakat daerah, Komunitas Untuk Jogja ini berhasil meraih beberapa penghargaan. Beberapa diantaranya yaitu: Juara 2 pengolahan sampah pada event U-Greentea di Universitas Palembang pada tahun 2015, penerima Kalpataru dalam kategori bina lingkungan tingkat Kabupaten Sleman pada tahun 2016, The Best ecososiopreneur dalam American Corner Universitas Airlangga dan Juara 1&2 “Wise with waste” di UPN Yogyakarta pada tahun 2017, serta yang terbaru adalah prestasinya dalam meraih posisi tiga besar kreasi sampah Aqua.

Dalam artikel kali ini, penulis akan menyoroti program terbaru dari Komunitas Untuk Jogja. Sebenarnya program ini bukan hal yang sepenuhnya baru, karena hal-hal yang sudah penulis sebutkan diatas merupakan rangkaian milestone yang sudah dicapai demi tercapainya program ini. Nama program ini sendiri adalah Eco-Tourism, dimana merupakan suatu kesatuan program jangka panjang yang bermuara kepada terbentuknya desa wisata mandiri. Program ini sendiri rencananya akan diadakan di Pleret, Bantul, Yogyakarta. Hal ini mengingat bahwa secara lanskap, ekosistem serta tanah disana merupakan tanah yang subur dan cocok untuk bertani, masih banyak penduduknya yang merupakan masyarakat agraris, serta beberapa masalah seperti alih fungsi lahan, urbanisasi, kekurangan air, serta masalah-masalah lain yang kemudian menggerakkan Komunitas Untuk Jogja untuk memilih lokasi ini. Walaupun memang banyak rintangan yang dihadapi oleh tim Komunitas Untuk Jogja ini, akan tetapi hal ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan potensi yang ada didalam wilayah tersebut. Potensi yang dapat dimaksimalkan oleh tim ini di awal atau inisiasi program berfokus kepada dua hal: pengelolaan sampah dan bidang pertanian. Pengelolaan sampah ini sendiri mempunyai beberapa sub program yaitu terkait perizinan, perencanaan wilayah, pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah, serta pengelolaan sampah organik. Sedangkan di bidang pertanian yaitu pertanian organik dan integrated farming untuk daerah perkotaan. Pertanian organik ini kemudian dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu vertikultur dan closed loop. Kemudian mengenai integrated farming, hal ini akan memasukkan unsur digital kedalamnya. Rencana kedepan tim Komunitas Untuk Jogja ini adalah pembuatan IoT (Internet of Things) untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari integrated farming dan pertanian kota.

Program ini akan berlangsung secara bertahap selama 5 tahun. Dimulai dari tahun 2018, program ini diharapkan akan selesai pada tahun 2022 mendatang. Pada tahun 2018 targetnya yaitu finalisasi program pengolahan sampah baik organik maupun non-organik serta efisiensi pertanian kota dan integrated farming menggunakan internet of things (IoT).

Pada tahun 2019, tim akan mulai menggarap disisi desa wisatanya. Hal ini kemudian akan dibagi menjadi beberapa kegiatan. Pertama, inisiasi kegiatan wisata di daerah tersebut yang diawali dengan pencarian potensi wisata dan formulasi kegiatannya. Kedua, melakukan pemberdayaan masyarakat sekitar untuk mengelola kegiatan wisata tersebut, dimana hal ini bertujuan agar masyarakat dilibatkan dan nantinya akan dapat menjalankan aktivitas ini sendiri ketika program sudah berakhir. Ketiga, penguatan dibidang perikanan dan peternakan, dimana hal ini merupakan potensi daerah yang juga bisa dimanfaatkan untuk wisata. Yang terakhir adalah melakukan exposure kepada media. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan wisata yang sudah dibangun ini bisa diketahui banyak orang dan diharapkan dengan ini bisa menarik banyak pengunjung untuk kemudian datang ke daerah ini untuk berwisata. Seperti yang kita ketahui bahwa sekarang ada istilah viral, dimana suatu kejadian atau tempat bisa menjadi terkenal dalam waktu yang sangat cepat karena adanya media digital. Hal itu pula yang akan tim Komunitas Untuk Jogja manfaatkan sebagai media promosi tempat wisata ini.

Pada tahun 2020, setelah adanya pendapatan desa melalui desa wisata, maka tim akan mulai merambah ke sisi energi alternatif yang merupakan terusan dari program pengolahan limbah. Energi alternatif ini terdiri dari dua hal, yaitu biogas, dimana bahan pembuatannya sangat mudah ditemukan dilokasi ini, serta pengolahan limbah minyak untuk pemanfaatan kembali oleh masyarakat. Dengan adanya penguatan dibidang energi ini, maka akan terjadi efisiensi lain yang dilakukan oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan masyarakat akan mengurangi biaya yang mereka gunakan baik untuk kehidupan sehari-hari maupun usaha.

Pada tahun 2021, kegiatan akan lebih difokuskan kepada promosi dan marketing. Tajuk yang akan digarisbawahi di tahun ini adalah Inklusi. Inklusi ini akan dibagi menjadi dua kegiatan. Pertama adalah pertunjukan desa. Pertunjukan desa ini dimaksudkan untuk lebih mengenalkan desa kepada masyarakat luas. Hal ini dilakukan untuk mendorong perekonomian warga yang berbasis kepada pemberdayaan masyarakat desa wisata. Kedua, yang tidak kalah penting yaitu kegiatan jejaring dan kerjasama dengan berbagai instansi, seperti stakeholder, media, perusahaan, dan lain sebagainya agar nantinya dapat membantu kegiatan pemberdayaan masyarakat di wilayah ini.

Kemudian pada tahun 2022, harapannya kegiatan sudah mencapai titik akhir yaitu sustainability atau keberlangsungan. Akan menjadi percuma semua program yang telah dilakukan itu tadi jika tidak bisa berlangsung secara berkelanjutan. Kegiatan dalam tahun ini akan dibagi menjadi tiga. Pertama yaitu maintenance, dimana selama program akan diselipkan beberapa infrastruktur seperti Internet of things dan alat-alat lain yang dibuat selama program. Maka dari itu, masyarakat akan diajari bagaimana merawat serta memelihara alat-alat tersebut agar bisa selalu beroperasi dengan baik. Kedua yaitu Desa Mandiri, dimana program ini hanya berlangsung 5 tahun saja dan tim pasti akan pulang dari lokasi dan meninggalkan masyarakat. Tentu harapan dari tim sendiri adalah bahwa setelah kepergian mereka, sistem yang telah dibangun akan tetap berjalan dengan baik. Maka dari itu, istilah desa mandiri yaitu bisa melakukan semua yang sudah diajarkan secara mandiri dan pendampingan bisa mulai dilepas perlahan. Ketiga adalah inovasi, dimana setelah bisa mandiri dan dilepas, harapannya daerah ini bisa terbentuk suatu kreativitas agar selalu berinovasi menyesuaikan dengan keadaan yang ada. Hal ini agar mereka tidak tertinggal dengan zaman.

Dampak yang diharapkan tim Komunitas Untuk Jogja dengan terlaksananya program ini adalah peningkatan pendapatan rata-rata perkapita masyarakat, berjalannya usaha desa wisata yang akan melibatkan seluruh elemen masyarakat sekitar, berjalannya infrastruktur yang sudah diformulasi selama program, serta jejaring dan kerjasama yang berkelanjutan dari pihak daerah ke pihak luar.

Hestyriani Anisa Widyaningsih: Penerima Beasiswa MM FEB UGM Tahun 2018

Written by Irvan Hanavi on . Posted in News

ugm
Hestriani

Bapak Sarjana Kehidupan

            Fadjar Basoeki Roesamadikroen. Pria paruh baya yang mendedikasikan dirinya untuk lingkungan dan masyarakat pedesaan. Pak Fadjar, begitu orang-orang dan anak didiknya memanggil beliau, adalah sosok dibalik berdirinya sebuah komunitas lingkungan besar di Jogja yang dinamakan Komunitas Untuk Jogja (KUJ). Beliau lahir di Purwokerto, 12 Juni 1959. Anak keenam dari delapan bersaudara. Ayahnya adalah seorang pimpinan di PT. KAI regional Jawa Tengah – Jawa Timur dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.

            Sebelum mendirikan KUJ, Pak Fadjar bekerja sebagai seorang konsultan irigasi regional Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dari World Bank atau Bank Dunia. Beliau memberikan penyuluhan dan konsultasi mengenai irigasi secara teknis dan admnistrasi kepada masyarakat tani untuk regional Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut beliau, masyarakat pedesaan belum sepenuhnya mengetahui bagaimana menggunakan sistem irigasi yang baik. Contoh kecilnya saja, masih banyak masyarakat di pedesaan yang mengambil air sungai untuk mengaliri sawahnya. Sementara, debit air sungai tersebut bisa untuk beberapa sawah. Akhirnya, Pak Fadjar membuatkan sebuah sistem irigasi terintegrasi yang dapat memberikan pengairan ke beberapa sawah tanpa mengurangi kebutuhan air setiap individunya. Selain itu, masyarakat juga kurang memahami secara admnistratif untuk pembuatan pengairan. Oleh karena itu, Pak Fadjar juga membantu masyarakat untuk mengurus admnistrasi irigasi ke pemerintah setempat.

            Apabila membicarakan irigasi, tentu saja tidak terlepas dari pertanian, perternakan, dan perikanan. Pak Fadjar adalah sarjana pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Ketika beliau memberikan penyuluhan, konsultasi, mengenai irigasi kepada masyarakat, beliau selalu memasukkan unsur pertanian, peternakan, dan perikanan. Dampaknya adalah pemanfaatan air dapat lebih efisien dan efektif, sehingga tidak hilang begitu saja terserap di dalam tanah. Tentu saja ini tidak selalu berjalan dengan mulus. Ketika beliau berhadapan langsung dengan masyarakat, ada juga masyarakat yang tidak mau mendengarkan atau ngeyel. Akan tetapi, hal tersebut tidak memadamkan semangat Pak Fadjar untuk mengedukasi masyarakat. Prinsip beliau adalah mengedukasi orang dengan cara yang terbaik dan biarkan Allah SWT yang menggerakkan hati setiap manusia yang diedukasi.

Pak Fadjar menjalani kehidupan sebagai konsultan irigasi selama 2 tahun. Beliau berhenti karena konflik sistem pekerjaan dengan pemerintah setempat. Berhenti dari pekerjaannya, Pak Fadjar memutuskan untuk membentuk KUJ. KUJ adalah sebuah komunitas yang bergerak dibidang pertanian, perikanan, peternakan, pengolahan sampah, dan pemberdayaan masyarakat dengan memberikan jembatan kepada mahasiswa atau pelajar untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat di kampus atau sekolah ke masyarakat khususnya masyarakat desa.

Pengalaman Pak Fadjar yang malang melintang di dunia pertanian dan diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi daerah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta membuat beliau memahami masalah dan karakter masyarakat disetiap daerah, khususnya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengalaman inilah yang membuat beliau sadar, ada jurang yang besar antara ilmu yang masyarakat ketahui dan ilmu yang dipelajari di bangku sekolah. Selain itu, banyak anak muda yang kurang memahami bagaimana pengaplikasian ilmu tersebut menjadi ilmu yang tepat guna. Oleh karena itu, beliau mendirikan KUJ.

KUJ sendiri berdiri tanggal 28 Desember 2013. Hingga saat ini anggota KUJ sudah mencapai ribuan mahasiswa yang berasal dari berbagai macam daerah dan universitas di Yogyakarta. KUJ sudah mendampingi puluhan program kuliah kerja nyata (KKN) dan pengabdian masyarakat yang diadakan oleh universitas-universitas di Yogyakarta. Hal tersebut tidak terlepas dari peran seorang Pak Fadjar.

Di KUJ, Pak Fadjar tidak hanya dikenal sebagai Pembina dan guru, tetapi juga sosok Bapak. Beliau tidak hanya mendidik anggota KUJ menjadi seseorang yang harus kembali lagi ke desanya dan membangun daerahnya sendiri, tetapi juga mendidik untuk menjadi manusia yang mandiri. Beliau percaya bahwa masa depan bangsa ini ada di generasi mudanya. Kalau generasi muda tidak ada yang mau kembali ke desa, bangsa ini akan hancur. Menurut beliau, desa adalah sumber penghidupan. Air, udara, dan tanah dimanfaatkan baik di desa. Apabila ini tidak dijaga, pasti akan punah.

KUJ sendiri aktif di beberapa desa di Bantul dan Gunung Kidul, Yogyakarta. Ada banyak program yang dijalan seperti pengelolaan sampah, pembuatan pupuk organik, pemanfaatan lahan sempit untuk pertanian dengan cara vertikultur, pertanian organik, pertanian terintegrasi, pengelolaan limbah peternakan dan perikanan, pembuatan pakan ternak organik, hingga pembuatan lanskap desa wisata.

Tantangan yang beliau hadapi saat ini adalah mengenai sustainability atau keberlanjutan. Ada banyak program yang sudah beliau inisiasi tetapi eksekusinya tidak dilanjutkan sampai tahap pengembangan. Oleh karena itu, banyak proyek yang beliau inisiasi bersama KUJ, masyarakat desa, dan pemerintah setempat akhirnya mangkrak. Ada beberapa faktor yang menyebabkan proyek tersebut menjadi terhenti. Pertama, sumber daya manusia yang tidak tetap.

Contohnya, di Padukuhan Ngireng-ngireng, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul. Di sana ada sebuah rumah yang sudah didesain sedemikian rupa untuk lahan hidroponik. Di rumah itu sudah ada kolam bertingkat empat yang tingkat dasar adalah kolam ikan, tingkat kedua adalah tempat hidroponik, tingkat ketiga adalah kolam ikan dan tingkat paling atas adalah tempat hidroponik. Kolam hidroponik tersebut sudah ada sejak 2007. Pak Fadjar sendiri yang mengajarkan kepada si pemilik rumah untuk membuat kolam tersebut. Sayangnya, baru 2 tahun berjalan kolam hidroponik tersebut berhenti berproduksi. Penyebabnya adalah sumber daya manusia yang tidak ada. Begitu pemiliknya pergi, otomatis berhenti. Hal-hal seperti inilah yang disayangkan oleh Pak Fadjar.

Jika dilihat secara garis besar, masyarakat pedesaan khususnya yang berada di wilayah perbatasan dengan kota sudah mulai menyadari persaingan ekonomi. Disatu sisi, mereka belum mampu untuk mempunyai taraf hidup seperti masyarakat kota. Disisi lain, ada banyak sumber daya alam yang bisa mereka kelola untuk mendatangkan penghasilan sehingga dapat menunjang kehidupan mereka. Berlandaskan hal tersebut, banyak dari mereka, masyarakat pedesaan tersebut yang akhirnya membuat insiatif memajukan desanya, supaya tidak tertinggal dari majunya perkotaan.

Akan tetapi, hal tersebut tampaknya belum sepenuhnya didukung oleh semua pihak. Seperti yang sudah dikemukakan diatas, bahwa apabila insiator atau orang yang mengerjakan itu pergi, otomatis apa yang sudah dimulai pasti akan berhenti. Hal seperti inilah yang disayangkan Pak Fadjar. Oleh karena itu, saat ini Pak Fadjar bersama-sama dengan stakeholder KUJ, anggota KUJ, masyarakat, dan pemerintah setempat membangun ulang dan mengawal kegiatan tersebut hingga selesai. Tujuannya adalah mendapatkan sebuah desa percontohan terkait pertanian organik yang ujung akhirnya adalah sebuah pertanian terintegrasi dan desa wisata. Potensi desa yang ada ditata dengan sedemikian rupa sehingga menarik perhatian wisatawan untuk berkegiatan tani. Tentu saja ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi orang perkotaan.

Harapan beliau dengan beliau beraktivitas seperti ini adalah menciptakan anak muda yang mau kembali lagi ke desa dan membangun desanya. Bagaimanapun juga, petani yang menanam padi. Peternak yang memelihara hewan ternak. Nelayan yang mencari ikan di laut. Apabila sudah tidak ada lagi orang yang ingin menjadi petani, peternak, ataupun nelayan, apakah kebutuhan pangan masyarakat Indonesia dapat terpenuhi? Tentu saja tidak. Oleh karena itu, apa yang dilakukan beliau ini tidak semata-mata untuk dirinya sendiri, tetapi berbagi untuk sesamanya mencintai lingkungan dan desa.

 

Executive Series bersama Dirut WIKA

Written by Irvan Hanavi on . Posted in News

IMG_1730

Executive Series merupakan salah satu bagian dari program non SKS yang menitikberatkan pada program pengembangan softskills dan peningkatan kepemimpinan yang wajib diikuti oleh mahasiswa MM FEB UGM. Acara ini selalu menghadirkan pembicara hebat yang sangat menginspirasi mahasiswa terutama yang berkaitan tentang leadership.

Pada tanggal 16 November 2018, MM FEB UGM berkerjasama dengan MM Student Association dan Strategic Club menyelenggarakan acara Executive Series dengan tema “Strategic Leadership: Overcoming Future Challenges”. Dalam kesempatan ini, Ir. Tumiyana, M.B.A. selaku Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk menjadi narasumber acara.

Acara pertama dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne Gadjah Mada, dilanjutkan dengan sambutan dari Dr. T. Hani Handoko, M.B.A. selaku Direktur MM FEB UGM Kampus Yogyakarta. Hani mengucapkan terima kasih atas kedatangan Tumiyana, MM FEB UGM beruntung dapat mengundang Tumiyana yang mempunyai banyak cerita dan pengalaman yang dapat menginspirasi mahasiswa. Hani berharap mahasiswa dapat menggali ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya untuk dipelajari bersama dan menjadi salah satu inspirasi hidup dalam mengembangkan kepemimpinan mahasiswa.

Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. yang turut hadir dan memberikan sambutan acara ini juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak baik bagi Bapak Tumiyana dari PT Wijaya Karya (Persero) dan juga MM FEB UGM.

“dengan acara ini, saudara akan mendapatkan ilmu yang luar biasa dan bagi kita yang mendengarkan juga akan mendapatkan tambahan pengetahuan dan ilmu yang luar biasa.” ucap Panut.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan Tumiyana tentang Strategic Leadership. “Kalau melihat komposisi dari jumlah tenaga kerja, saya tidak akan bercerita banyak. Kita mendetilkan jumlah manajemen proyek yang kita miliki. Kita punya 247 proyek terbagi dalam sektor-sektor yang kita kejar dari mulai pembangkitan, jembatan dan sebagainya”, ucapnya.

“Semua pemimpin harus bisa mentransfer semua yang dimiliki kepada generasi berikutnya. Wijaya Karya mempunyai kebiasaan pada program tahunannya yaitu selalu berbagi program ke seluruh jajaran organisasi, sehingga apa yang kita inginkan dapat tersampaikan dengan baik kepada organisasi yang paling bawah. Kita punya forum namanya “CEO Talk” dan itu boleh di- share ke seluruh insan migas sampai dengan level manajemen proyek dan boleh memberikan feedback kepada CEO dan para BOD, sehingga bisa dijadikan masukan dan juga untuk mengetahui apakah  program yang dijalankan sudah cocok dan berjalan dengan baik. Feedback ini selalu di-update periodically setiap tiga bulan” ucap Tumiyana di akhir pemaparan.

Setelah selesai memberikan pemaparan, Hani selaku Moderator acara Executive Series menyimpulkan beberapa hal yaitu sosok strategic leadership adalah seseorang yang memahami apa yang terjadi dalam industri selama 5-10 tahun kedepan, mengetahui posisi dalam industri atau perusahaan, dan memiliki leadership yang kuat dan adaptif terhadap segala perubahan dan berani mengambil risiko.

Setelah selesai menyaksikan pemaparan Tumiyana, beberapa mahasiswa sangat antusias untuk bertanya mulai dari pengalaman kerja, persaingan di jaman milenial, hambatan terbesar dalam mengembangkan perusahaan, hingga bagaimana strategi yang perlu diterapkan dalam memimpin suatu perusahaan. Selama acara berlangsung, Wakil Rektor UGM, Dr. Paripurna Poerwoko Sugarda, S.H., M.Hum., LL.M, serta Pengelola MM FEB UGM Kampus Yogyakarta, Dr. Sumiyana, M.Si., dan Bayu Sutikno, Ph.D. turut mengikuti dan menyaksikan acara Executive Series dari awal hingga selesai.

IMG_1713

IMG_1727

IMG_1742

Closing Ceremony MM UNCEN Angkatan V

Written by Irvan Hanavi on . Posted in News

IMG_1683

Selama tiga hari mahasiswa MM FEB UNCEN mengikuti Short Course di MM FEB UGM. Raut wajah senang dan antusias peserta terlihat dari awal hingga akhir short course program. Peserta MM FEB UNCEN Angkatan V merupakan mahasiswa yang telah memasuki tahap penulisan tesis dan mayoritas mereka bekerja di Pemerintah Daerah Papua.

Closing ceremony angkatan ini dihadiri oleh Dr. Ferdinand Risamasu, M.Sc.Agr., selaku Ketua Program Studi MM FEB UNCEN, Dr. Ruben Tuhumena, M.Si., selaku Dosen Pendamping MM FEB UNCEN, Dr. T. Hani Handoko, M.B.A., dan Dr. Sumiyana, M.Si., Ak., CA. selaku pegelola MM FEB UGM. Pada awal sambutan, Ferdinand mengucapkan terima kasih kepada pengelola dan staf yang telah membantu pelaksanaan short course ini. Ferdinand berharap tahun depan MM FEB UNCEN bisa melaksanakan short course untuk angkatan VI. Hal yang sama juga diungkapan Sumiyana. Ia mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada MM FEB UGM. Peserta short course program merupakan bagian dari MM FEB UGM sehingga peserta bebas untuk menggunakan fasilitas yang ada di MM FEB UGM. Peserta short course program juga mendapatkan sertifikat yang diserahkan secara simbolis pada saat penutupan. Ibu Rosye Welmina Itaar, S.E. menjadi wakil peserta untuk menerima sertifikat dari MM FEB UGM yang diserahkan langsung oleh Hani Handoko.

Banyak kesan dan pesan yang diperoleh peserta selama mengikuti kegiatan short course program. Hal ini diungkapkan Ameizing Greisius Singgamui, S.E. dalam acara penutupan. Sebagai wakil peserta, Ameizing mengucapkan terima kasih kepada MM FEB UGM karena telah memfasilitasi pengajar yang sangat profesional dibidang human resources, financial management, strategic management, marketing management dan business research methods. Peserta sangat senang dengan cara mengajar dosen yang ada di MM FEB UGM. Ameizing juga mengatakan bahwa peserta juga mendapat ilmu tentang leadership yang dapat diterapkan di dalam dunia kerja.

Sebagai penutup, Peserta short course program memberikan sebuah persembahan untuk Pengelola dan staf MM FEB UGM. Sebuah lagu tentang Papua yang dinyanyikan dengan merdu oleh peserta. Setelah itu, peserta dan pengelola berfoto bersama.

IMG_1623

IMG_1653

IMG_1670

YOGYAKARTA: Jl. Teknika Utara, Yogyakarta, Indonesia 55281 | Telepon: (62) (274) 556912, 515536, 562222, 589384, 511036 | Faksimile: (62) (274) 564388 | Hotline: 0811-282-3806
JAKARTA: Jl. Dr. Saharjo No. 83 Tebet Jakarta Selatan | Telepon: (62) (21) 83700333, 83700339, 83700340 | Faksimile: (62) (21) 83700372 | Hotline: 0813-1844-9088