Hestyriani Anisa Widyaningsih: Penerima Beasiswa MM FEB UGM Tahun 2018

Written by Irvan Hanavi on . Posted in News


Hestriani

Bapak Sarjana Kehidupan

            Fadjar Basoeki Roesamadikroen. Pria paruh baya yang mendedikasikan dirinya untuk lingkungan dan masyarakat pedesaan. Pak Fadjar, begitu orang-orang dan anak didiknya memanggil beliau, adalah sosok dibalik berdirinya sebuah komunitas lingkungan besar di Jogja yang dinamakan Komunitas Untuk Jogja (KUJ). Beliau lahir di Purwokerto, 12 Juni 1959. Anak keenam dari delapan bersaudara. Ayahnya adalah seorang pimpinan di PT. KAI regional Jawa Tengah – Jawa Timur dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.

            Sebelum mendirikan KUJ, Pak Fadjar bekerja sebagai seorang konsultan irigasi regional Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dari World Bank atau Bank Dunia. Beliau memberikan penyuluhan dan konsultasi mengenai irigasi secara teknis dan admnistrasi kepada masyarakat tani untuk regional Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut beliau, masyarakat pedesaan belum sepenuhnya mengetahui bagaimana menggunakan sistem irigasi yang baik. Contoh kecilnya saja, masih banyak masyarakat di pedesaan yang mengambil air sungai untuk mengaliri sawahnya. Sementara, debit air sungai tersebut bisa untuk beberapa sawah. Akhirnya, Pak Fadjar membuatkan sebuah sistem irigasi terintegrasi yang dapat memberikan pengairan ke beberapa sawah tanpa mengurangi kebutuhan air setiap individunya. Selain itu, masyarakat juga kurang memahami secara admnistratif untuk pembuatan pengairan. Oleh karena itu, Pak Fadjar juga membantu masyarakat untuk mengurus admnistrasi irigasi ke pemerintah setempat.

            Apabila membicarakan irigasi, tentu saja tidak terlepas dari pertanian, perternakan, dan perikanan. Pak Fadjar adalah sarjana pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Ketika beliau memberikan penyuluhan, konsultasi, mengenai irigasi kepada masyarakat, beliau selalu memasukkan unsur pertanian, peternakan, dan perikanan. Dampaknya adalah pemanfaatan air dapat lebih efisien dan efektif, sehingga tidak hilang begitu saja terserap di dalam tanah. Tentu saja ini tidak selalu berjalan dengan mulus. Ketika beliau berhadapan langsung dengan masyarakat, ada juga masyarakat yang tidak mau mendengarkan atau ngeyel. Akan tetapi, hal tersebut tidak memadamkan semangat Pak Fadjar untuk mengedukasi masyarakat. Prinsip beliau adalah mengedukasi orang dengan cara yang terbaik dan biarkan Allah SWT yang menggerakkan hati setiap manusia yang diedukasi.

Pak Fadjar menjalani kehidupan sebagai konsultan irigasi selama 2 tahun. Beliau berhenti karena konflik sistem pekerjaan dengan pemerintah setempat. Berhenti dari pekerjaannya, Pak Fadjar memutuskan untuk membentuk KUJ. KUJ adalah sebuah komunitas yang bergerak dibidang pertanian, perikanan, peternakan, pengolahan sampah, dan pemberdayaan masyarakat dengan memberikan jembatan kepada mahasiswa atau pelajar untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat di kampus atau sekolah ke masyarakat khususnya masyarakat desa.

Pengalaman Pak Fadjar yang malang melintang di dunia pertanian dan diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi daerah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta membuat beliau memahami masalah dan karakter masyarakat disetiap daerah, khususnya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengalaman inilah yang membuat beliau sadar, ada jurang yang besar antara ilmu yang masyarakat ketahui dan ilmu yang dipelajari di bangku sekolah. Selain itu, banyak anak muda yang kurang memahami bagaimana pengaplikasian ilmu tersebut menjadi ilmu yang tepat guna. Oleh karena itu, beliau mendirikan KUJ.

KUJ sendiri berdiri tanggal 28 Desember 2013. Hingga saat ini anggota KUJ sudah mencapai ribuan mahasiswa yang berasal dari berbagai macam daerah dan universitas di Yogyakarta. KUJ sudah mendampingi puluhan program kuliah kerja nyata (KKN) dan pengabdian masyarakat yang diadakan oleh universitas-universitas di Yogyakarta. Hal tersebut tidak terlepas dari peran seorang Pak Fadjar.

Di KUJ, Pak Fadjar tidak hanya dikenal sebagai Pembina dan guru, tetapi juga sosok Bapak. Beliau tidak hanya mendidik anggota KUJ menjadi seseorang yang harus kembali lagi ke desanya dan membangun daerahnya sendiri, tetapi juga mendidik untuk menjadi manusia yang mandiri. Beliau percaya bahwa masa depan bangsa ini ada di generasi mudanya. Kalau generasi muda tidak ada yang mau kembali ke desa, bangsa ini akan hancur. Menurut beliau, desa adalah sumber penghidupan. Air, udara, dan tanah dimanfaatkan baik di desa. Apabila ini tidak dijaga, pasti akan punah.

KUJ sendiri aktif di beberapa desa di Bantul dan Gunung Kidul, Yogyakarta. Ada banyak program yang dijalan seperti pengelolaan sampah, pembuatan pupuk organik, pemanfaatan lahan sempit untuk pertanian dengan cara vertikultur, pertanian organik, pertanian terintegrasi, pengelolaan limbah peternakan dan perikanan, pembuatan pakan ternak organik, hingga pembuatan lanskap desa wisata.

Tantangan yang beliau hadapi saat ini adalah mengenai sustainability atau keberlanjutan. Ada banyak program yang sudah beliau inisiasi tetapi eksekusinya tidak dilanjutkan sampai tahap pengembangan. Oleh karena itu, banyak proyek yang beliau inisiasi bersama KUJ, masyarakat desa, dan pemerintah setempat akhirnya mangkrak. Ada beberapa faktor yang menyebabkan proyek tersebut menjadi terhenti. Pertama, sumber daya manusia yang tidak tetap.

Contohnya, di Padukuhan Ngireng-ngireng, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul. Di sana ada sebuah rumah yang sudah didesain sedemikian rupa untuk lahan hidroponik. Di rumah itu sudah ada kolam bertingkat empat yang tingkat dasar adalah kolam ikan, tingkat kedua adalah tempat hidroponik, tingkat ketiga adalah kolam ikan dan tingkat paling atas adalah tempat hidroponik. Kolam hidroponik tersebut sudah ada sejak 2007. Pak Fadjar sendiri yang mengajarkan kepada si pemilik rumah untuk membuat kolam tersebut. Sayangnya, baru 2 tahun berjalan kolam hidroponik tersebut berhenti berproduksi. Penyebabnya adalah sumber daya manusia yang tidak ada. Begitu pemiliknya pergi, otomatis berhenti. Hal-hal seperti inilah yang disayangkan oleh Pak Fadjar.

Jika dilihat secara garis besar, masyarakat pedesaan khususnya yang berada di wilayah perbatasan dengan kota sudah mulai menyadari persaingan ekonomi. Disatu sisi, mereka belum mampu untuk mempunyai taraf hidup seperti masyarakat kota. Disisi lain, ada banyak sumber daya alam yang bisa mereka kelola untuk mendatangkan penghasilan sehingga dapat menunjang kehidupan mereka. Berlandaskan hal tersebut, banyak dari mereka, masyarakat pedesaan tersebut yang akhirnya membuat insiatif memajukan desanya, supaya tidak tertinggal dari majunya perkotaan.

Akan tetapi, hal tersebut tampaknya belum sepenuhnya didukung oleh semua pihak. Seperti yang sudah dikemukakan diatas, bahwa apabila insiator atau orang yang mengerjakan itu pergi, otomatis apa yang sudah dimulai pasti akan berhenti. Hal seperti inilah yang disayangkan Pak Fadjar. Oleh karena itu, saat ini Pak Fadjar bersama-sama dengan stakeholder KUJ, anggota KUJ, masyarakat, dan pemerintah setempat membangun ulang dan mengawal kegiatan tersebut hingga selesai. Tujuannya adalah mendapatkan sebuah desa percontohan terkait pertanian organik yang ujung akhirnya adalah sebuah pertanian terintegrasi dan desa wisata. Potensi desa yang ada ditata dengan sedemikian rupa sehingga menarik perhatian wisatawan untuk berkegiatan tani. Tentu saja ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi orang perkotaan.

Harapan beliau dengan beliau beraktivitas seperti ini adalah menciptakan anak muda yang mau kembali lagi ke desa dan membangun desanya. Bagaimanapun juga, petani yang menanam padi. Peternak yang memelihara hewan ternak. Nelayan yang mencari ikan di laut. Apabila sudah tidak ada lagi orang yang ingin menjadi petani, peternak, ataupun nelayan, apakah kebutuhan pangan masyarakat Indonesia dapat terpenuhi? Tentu saja tidak. Oleh karena itu, apa yang dilakukan beliau ini tidak semata-mata untuk dirinya sendiri, tetapi berbagi untuk sesamanya mencintai lingkungan dan desa.

 

Trackback from your site.

YOGYAKARTA: Jl. Teknika Utara, Yogyakarta, Indonesia 55281 | Telepon: (62) (274) 556912, 515536, 562222, 589384, 511036 | Faksimile: (62) (274) 564388 | Hotline: 0811-282-3806
JAKARTA: Jl. Dr. Saharjo No. 83 Tebet Jakarta Selatan | Telepon: (62) (21) 83700333, 83700339, 83700340 | Faksimile: (62) (21) 83700372 | Hotline: 0813-1844-9088