Menyikapi Perubahan Geopolitik, MBA FEB UGM Kampus Jakarta Bekali Mahasiswa Perspektif Strategi Bisnis Global

Jakarta, 8 Mei 2026

Di tengah perubahan geopolitik dunia yang semakin tidak menentu, dunia bisnis dituntut untuk mampu beradaptasi dan melampaui batas konvensional. Tantangan yang dihadapi pada pemimpin sektor bisnis saat ini diantaranya seperti konflik antarnegara, perang dagang, fragmentasi rantai pasokan, hingga pergeseran kekuatan ekonomi dunia. Menyiapkan upaya menghadapi tantangan tersebut, MBA FEB UGM Kampus Jakarta menyelenggarakan Executive Series dengan tema “Business Beyond Borders: Leading Through Geopolitical Change”. Dengan menghadirkan ekspertise Prof. Renato Pereira, Professor General Management dari ISCTE Business School, Lisbon, Portugal, dimoderatori oleh Dr. Rangga Almahendra, S.T., M.M pada Jumat 8 Mei 2026 secara luring.

Kegiatan dibuka oleh Deputy Director MBA FEB UGM Kampus Jakarta, Sari Sitalaksmi, Ph.D. Ia menegaskan bahwa topik yang dihadirkan sangat relevan dengan kondisi yang tengah dirasakan oleh para mahasiswa dalam kegiatan bisnis sehari-hari. “Untuk beberapa bulan terakhir, Indonesia dan dunia menghadapi turbulensi geopolitik yang signifikan. Mahasiswa kita sangat paham dengan apa yang sedang terjadi di bisnis mereka”, ungkapnya. Dalam kesempatannya ia juga mengumumkan konsentrasi baru bernama Strategic Leadership, Organizational Design, and Culture yang telah resmi diluncurkan sebagai bentuk komitmen program studi dalam menjawab kebutuhan pengembangan kepemimpinan yang relevan dengan kemajuan zaman.

Mengawali paparan, Prof. Renato menjabarkan identifikasi lima tren besar geopolitik yang paling mengguncang dunia bisnis saat ini. Pertama, persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok dalam memperebutkan dominasi ekonomi global. Ia mengungkapkan bahwa bukan hanya sekedar dominasi Amerika Serikat terhadap ekonomi global, namun juga mencakup kekuatan militer, kontrol terhadap institusi keuangan internasional, serta soft power yang telah dibangun selama puluhan tahun. Kedua, ketidakstabilan sistem keuangan global yang bergantung pada pencetakan uang tanpa nilai riil. Saat ini hampir seluruh negara besar tengah mendorong utang mereka ke titik maksimum, hingga pada satu titik nanti, dunia akan terpaksa mengadakan penghapusan hutang bersama karena tidak ada lagi cara lain untuk mengelolanya.

Ketiga, dampak perubahan iklim yang mengancam rantai pasokan pangan dunia. Beberapa negara telah kehilangan hingga separuh lahan pertanian produktif mereka akibat desertifikasi. Sumber daya alam yang sebelumnya tidak dapat dijangkau kini menjadi arena kompetisi geopolitik baru. Perubahan iklim berpotensi memicu wabah penyakit baru dan mengaktifkan virus yang sebelumnya tidak aktif. Hal ini juga akan menciptakan kesenjangan baru antara negara yang memiliki teknologi medis dan yang tidak memiliki.

Tren keempat yakni slow lization atau melemahnya arus globalisasi. Prof. Renato menegaskan strategis global murni akan menjadi pengecualian, bukan norma, di masa depan. Strategi domestik dan regional akan mendapat bobot yang jauh lebih besar. Kemajuan teknologi memungkinkan bisnis beroperasi penuh tanpa kehadiran fisik, Hal ini membuka peluang bagi negara berkembang khususnya Indonesia untuk masuk ke rantai pasok global tanpa perlu investasi fisik yang masif.

Terakhir, tren era never normal yang ditandai oleh konflik-konflik tak berkesudahan seperti perang di Ukraina, Gaza, dan Iran. Konflik terus membara tanpa penyelesaian yang jelas dan menciptakan ketidakpastian yang bersifat permanen. Kondisi never normal ini secara fundamental mengubah cara kita dalam menyusun strategi bisnis.

Dalam sesi diskusi, Prof. Renato menekankan bahwa perubahan geopolitik bukan hanya menghadirkan ancaman, tetapi juga peluang yang nyata terutama bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Ia menyoroti bagaimana COVID-19 mendorong banyak negara di Eropa untuk memutus ketergantungan pada Tiongkok dan aktif mencari mitra rantai pasokan alternatif. Melalui data perdagangan internasional, ia menggambarkan bagaimana pangsa pasar Tiongkok melejit dari kurang dari 1% pada 1979 menjadi hampir 15% saat ini melampaui AS yang justru turun dari 11% menjadi 8%. Namun sayangnya, Indonesia belum mengambil peran yang lebih besar dan belum berambisi mengembangkan hal tersebut. Padahal, tanpa ambisi dan strategi, tidak akan ada perubahan.

Di sisi lain, keterampilan kepemimpinan saat ini amat sangat dibutuhkan. Prof. Renato menegaskan bahwa pemimpin masa kini tidak lagi bisa menjalankan bisnis dengan menghindari risiko melainkan harus merangkulnya. “Kita perlu menghidupkan kembali semangat kewirausahaan. Dari sepuluh strategi yang diluncurkan, mungkin hanya satu yang berhasil, dan itu adalah hal yang wajar. Belajarlah dari prosesnya,” jelasnya. Ia juga mengingatkan bahwa framework bisnis hanya berfungsi sebagai dukungan, bukan pengganti kepemimpinan manusia yang sesungguhnya.

Sebagai penutup diskusi, Dr. Rangga merangkum kerangka VUKA yakni menghadapi Volatility dengan Vision, Uncertainty dengan Understanding, Complexity dengan Clarity, dan Ambiguity dengan Agility. Melalui Executive Series ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya dibekali dengan pengetahuan teknis bisnis, namun juga kepekaan terhadap isu-isu global yang secara langsung mempengaruhi pengambilan keputusan strategis di tingkat perusahaan maupun negara. Lebih dari itu, MBA FEB UGM Kampus Jakarta kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan perspektif internasional yang relevan dan mendalam bagi para calon pemimpin bisnis Indonesia.

Humas: Suci Hapsari
Photografer: Alfian Rama Aditya