Program Studi Master of Business Administration Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan Executive Series bertajuk “Chinese Perspectives on The Indonesian Business and Economy and Their Impacts on Indonesia-China Bilateral Relationship” pada Jumat, 22 Mei 2026 di Auditorium Sukadji Ranuwihardjo, MBA FEB UGM. Kegiatan ini wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa MBA FEB UGM.
Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Zhang Miao, Deputy Dean Institute of Southeast Asia Studies, Xiamen University, sebagai pembicara utama dengan moderator Novat Pugo Sambodo, S.E., MIDEC., Ph.D., dosen Departemen Manajemen FEB UGM. Executive Series ini menjadi wadah diskusi mengenai dinamika hubungan ekonomi Indonesia–China di tengah perkembangan geopolitik dan ekonomi global yang semakin kompleks.
Deputy Director MBA FEB UGM Kampus Yogyakarta, Luluk Lusiantoro, S.E., M.Sc., Ph.D., dalam sambutannya mengajak peserta untuk membuka wawasan dan berpikir kritis dalam menghadapi dinamika global. “So, ladies and gentlemen, let us open our minds, ask critical questions, and leave this session not just more informed, but more prepared to meet the future. Thank you very much,” ujar beliau.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Zhang Miao menjelaskan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis bagi China, baik dari sisi geografis, potensi pasar, maupun kekayaan sumber daya alam. Indonesia dinilai memiliki peran penting dalam rantai pasok industri global, khususnya pada sektor hilirisasi mineral seperti nikel yang mendukung perkembangan industri kendaraan listrik dan manufaktur berbasis teknologi.
Selain sektor industri, Indonesia juga dinilai memiliki potensi besar dalam ekonomi digital melalui pertumbuhan e-commerce, fintech, serta pembangunan infrastruktur digital yang terus berkembang.
Namun demikian, diskusi juga menyoroti berbagai tantangan dalam hubungan ekonomi Indonesia–China, seperti persaingan geopolitik global, ketidakpastian regulasi, kapasitas industri lokal, hingga isu tenaga kerja dan komunikasi publik dalam investasi asing.
Reporter: Fitrianti Rizqi, Azzumar Putra
Editor : Ayu Aprilia Sari