MBA FEB UGM Kampus Jakarta kembali meluncurkan program pengembangan kapasitas yakni Executive Education Program in Project Management (EEPPM) dalam acara “EEPPM Executive Launch & Project Management Talk Series #3” yang bekerja sama dengan IPMA Indonesia, pada Sabtu (12/09) lalu.
Melalui Talk Series bertajuk “Beyond Project Management: Becoming a Competent Project Leader”, diskusi mengangkat topik tentang pergeseran peran dari pengelola proyek menjadi pemimpin proyek yang berorientasi pada strategi, bisnis, dan etika.
Dalam paparannya, Dr. Rahayu S. Arifin menekankan bahwa lanskap proyek telah berubah. Kompleksitas meningkat, pendekatan agile dan waterfall hidup berdampingan, nilai dan keberlanjutan menjadi ukuran keberhasilan, dan kecerdasan buatan (AI) makin mempengaruhi pengambilan keputusan. Karena itu, pemimpin proyek dituntut tidak hanya mengendalikan lingkup, jadwal, dan biaya, namun mampu menafsirkan konteks, menyelaraskan kepentingan, dan menciptakan nilai,
Pergeseran ini digambarkan sebagai perjalanan dari methods dan execution menuju judgment, influence, dan value. Kompetensi pemimpin proyek dirumuskan dalam tiga unsur yakni perspective, people, dan practice. “Ukuran kepemimpinan yang sederhana dapat dilihat dari apakah seseorang mampu menjelaskan mengapa proyek itu penting, memobilisasi orang yang tepat, dan mengambil keputusan trade-off yang benar”, ungkap Dr. Rahayu.

Pemimpin proyek perlu memiliki literasi arsitektur bisnis. Pemimpin proyek tidak harus menjadi arsitek bisnis, tetapi perlu memahami visi, proposisi nilai, pemangku kepentingan, rantai nilai, kapabilitas, serta celah dan risiko. Pemahaman ini dijembatani lewat Strategic Project Genesis Framework, yang terdiri dari tujuh langkah yakni Vision Framing, Stakeholder Alignment, Value Proposition Analysis, Integrated Value Chain Design, Capability Mapping, Gap & Risk Analysis, dan Portfolio Setup & Prioritization.
Soal AI, pesan utamanya adalah teknologi ini menambah daya ungkit pemimpin, tetapi tidak menggeser akuntabilitas. Penilaian, tanggung jawab etis, dan hak keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. Gaya kepemimpinan pun harus menyesuaikan lingkungan, dimana semakin tinggi ketidakpastian dan saling ketergantungan, semakin besar ketergantungan pada penilaian, pengaruh, dan pembelajaran cepat.
EEPPM program ini dirancang sebagai pendidikan eksekutif berbasis sekolah bisnis untuk mengembangkan Strategic Project Leader. Kurikulum yang digunakan mencakup empat kluster strategis seperti Business & Strategy, Investment & Delivery, Risk, Transformation & Value, serta Sustainability & Leadership. EEPPM sendiri ditujukan bagi profesional proyek, profesional PMO, pemimpin bisnis, pemimpin transformasi, serta profesional investasi dan pengembangan yang bertanggung jawab mengubah intensi strategis menjadi eksekusi.
Humas: Suci Hapsari
Editor: Alfian Rama Aditya