Eksplor Brand Relevance Lebih Dalam, Mahasiswa MBA FEB UGM Kampus Jakarta Antusias Ikuti Executive Series

Di tengah persaingan bisnis yang semakin kompetitif, keberadaan brand atau merek tidak lagi cukup hanya dikenal, namun harus relevan dengan kebutuhan dan preferensi konsumen. Keterikatan menjadi kunci agar sebuah merek tetap hidup dalam benak konsumen meski dibanjiri banyak pilihan. Menjawab tantangan tersebut, MBA FEB UGM Kampus Jakarta mengundang Bobi B. Suadi, Vice President Marketing di Prudential Indonesia sekaligus brand marketer dalam menyelenggarakan Executive Series bertajuk “Brand Relevance: Being Hip With The Hype”.

Kegiatan dibuka dengan sambutan oleh Prof. Gugup Kismono selaku Kepala Program Studi MBA FEB UGM Kampus Jakarta. Ia menuturkan bahwa konsep pemasaran dapat dilihat melalui kondisi sederhana di sekitar, seperti kafe lokal yang tetap ramai pelanggan meski tanpa promosi iklan. Hal tersebut menunjukkan relevansi dengan konsumen menjadi salah satu faktor bagi sebuah brand untuk bertahan.

Dalam sesi utama, Bobby B. Suadi yang akrab disapa Pak Bobs mengupas pentingnya brand relevance dalam mempertahankan daya saing. Berbagai merek top global seperti Harley-Davidson, Adidas, hingga Coca-Cola yang berkolaborasi dalam ajang FIFA World Cup, adalah bentuk strategi suatu brand merawat kedekatan emosional dengan konsumen. Pak Bobs mengungkapkan, relevansi tidak sekedar membangun kualitas produk, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap perilaku dan preferensi konsumen. Positioning atau penempatan suatu produk sebelum memutuskan strategi komunikasi juga perlu dilakukan. “Brand relevance ibaratnya seperti kita membangun sebuah hubungan. Setiap produk harus memiliki tujuan yang jelas dengan target audiens yang spesifik.”, jelasnya. Positioning nantinya menghasilkan pendekatan pemasaran yang berbeda, baik dari sisi pesan maupun kanal promosi yang akan digunakan.

Pada sesi diskusi, sebanyak 250 mahasiswa secara aktif berpartisipasi dalam berbagai studi kasus relevansi brand. Salah satunya adalah strategi produk Pocari Sweat yang berhasil memanfaatkan tren gaya hidup sehat melalui event lari tahunannya. Merek KitKat yang memiliki tagline khas “Have a break, have a KitKat”, berhasil mengasosiasikan produknya dengan momen relaksasi dan istirahat bagi konsumennya. Ada pula produk Indomie yang sukses membangun kedekatan emosional dengan pelanggan sehingga menjadi pilihan utama di berbagai segmen pasar.

Relevansi “Hip with the Hype” sendiri tidak mengorbankan autentisitas sebuah brand. Menurut Pak Bobs, kondisi saat pandemi Covid-19 adalah contoh nyata bagaimana produk seperti Zoom dan Halodoc justru mampu beradaptasi cepat dengan perubahan kebutuhan konsumen. Ia juga mencontohkan produk Kodak yang justru gagal karena menolak mengikuti gelombang digitalisasi. Prinsip relevansi tidak hanya berlaku bagi brand, namun bagi individu dalam membangun karir. Ia menambahkan bahwa tetap relevan menjadi salah satu faktor untuk bertahan di tengah dinamika dunia kerja. “Relevansi bukan hanya soal ide yang tepat, tetapi juga momen yang tepat”, tegasnya.

Melalui Executive Series ini, mahasiswa diajak untuk mengeksplorasi lebih dalam akan konsep dan strategi brand relevance yang dapat diterapkan dalam dunia bisnis maupun perkembangan karir profesionalnya kelak. Tak hanya itu, MBA FEB Kampus Jakarta juga berkomitmen untuk menyelenggarakan kegiatan serupa dengan tema yang tak kalah menarik di kesempatan berikutnya.

Reporter: Alfian Rama Aditya
Editor: Suci Hapsari