MBA SA Connect Hadirkan CEO PT Nutrifood Indonesia Bahas Human-Centred Leadership

Program Studi Master of Business Administration Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MBA FEB UGM) bersama MBA Student Association (MBA SA) 20.0 menyelenggarakan MBA SA Connect #2 bertajuk ‘Human-Centred Leadership’ pada Jumat, 31 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa MBA FEB UGM dan menghadirkan CEO PT Nutrifood Indonesia, Dr. Mardi Wu, S.T.P., MSIA., sebagai narasumber. 

MBA SA Connect merupakan program pengembangan mahasiswa yang menghadirkan praktisi dan pemimpin industri untuk berbagi pengalaman serta wawasan kepemimpinan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memperoleh perspektif baru sebagai bekal menghadapi tantangan di dunia profesional.  

Acara dibuka oleh Maya Aulia Ilma, mahasiswa MBA FEB UGM Angkatan 86, selaku Master of Ceremony. Selanjutnya, CEO MBA SA 20.0, M. Nadhif Daffa Priyansa, menyampaikan sambutan sekaligus membuka rangkaian kegiatan. Ia berharap MBA SA Connect dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan kepemimpinan, belajar langsung dari para praktisi industri, serta mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang mampu memberikan dampak positif. 

Sesi materi dipandu oleh Faulindra Dita Arsanti, mahasiswa MBA FEB UGM Angkatan 87, selaku moderator. Pada kesempatan tersebut, Dr. Mardi Wu membagikan pengalaman dan pandangannya dalam membangun organisasi berbasis kepercayaan. Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh strategi bisnis, tetapi juga cara perusahaan memandang dan memperlakukan manusia sebagai aset utama. 

Beliau turut membahas McGregor’s Theory X dan Theory Y sebagai salah satu landasan dalam membangun budaya kepemimpinan di Nutrifood. Ia menjelaskan bahwa Theory Y berpandangan setiap individu memiliki keinginan untuk berkembang, bertanggung jawab, serta mampu mengarahkan dirinya sendiri ketika diberikan kepercayaan dan lingkungan yang mendukung. Sebaliknya, Theory X berangkat dari asumsi bahwa manusia perlu diawasi dan dikendalikan agar dapat bekerja secara optimal. 

“Menjalankan Theory Y bukanlah hal yang mudah karena kita harus terlebih dahulu percaya bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki niat baik dan ingin berkembang. Ketika organisasi mampu membangun kepercayaan, setiap individu akan terdorong untuk bertanggung jawab dan memberikan kontribusi terbaiknya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa budaya saling percaya dibangun melalui berbagai praktik di lingkungan kerja. Hal tersebut diwujudkan dengan memberikan ruang bagi karyawan untuk berkembang, berbagi pengetahuan, mengutamakan keberhasilan tim, serta mengelola perbedaan pendapat menjadi konflik yang bersifat fungsional. Menurutnya, kegiatan lintas divisi yang dirancang dan dikelola langsung oleh karyawan juga menjadi salah satu cara untuk memperkuat kolaborasi dan membangun hubungan antartim. 

Sesi diskusi berlangsung interaktif. Mahasiswa antusias mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari implementasi sistem manajemen sumber daya manusia di Nutrifood, strategi membangun budaya kerja berbasis kepercayaan, hingga cara perusahaan menciptakan lingkungan kerja yang mampu mendorong karyawan untuk terus berkembang dan berani menyampaikan pendapat.

Menutup sesi diskusi, moderator menyimpulkan bahwa kepemimpinan yang berpusat pada manusia berawal dari keyakinan bahwa setiap individu memiliki potensi dan niat baik untuk berkembang. Oleh karena itu, budaya organisasi perlu dibangun di atas kepercayaan, bukan kecurigaan, sehingga mampu menciptakan psychological safety yang mendorong inovasi, kolaborasi, dan pembelajaran berkelanjutan.

Reporter: Raina Satmika, Fitrianti Rizqi
Editor : Ayu Aprilia Sari