Kondisi sistem iklim di bumi saat ini sudah melampaui ambang batas. Pemanasan global, banjir di Afrika Barat dan Vietnam, kekeringan di Perancis, heat dome di Amerika Serikat, hingga badai di Spanyol dan Jerman mengakibatkan turunnya produktivitas dan berdampak pada biaya ekonomi dunia.
Hal ini yang menjadi keresahan yang dipaparkan oleh Prof. Kai Michael Griese, seorang ahli asal Osnabrück University of Applied Sciences, Jerman, dalam Executive Series bertajuk “How can Universities and Industry Partners co-design a sustainable ecosystem that drives regional innovation and tech transfer?” pada Sabtu (04/09) di MBA FEB UGM Kampus Jakarta dan dihadiri oleh 200 orang mahasiswa.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Kai menganalogikan perubahan iklim seperti rumah kaca. CO2 di atmosfer menjebak panas layaknya kaca dari rumah kaca menjebak sinar matahari. Kenaikan suhu di Jerman sebesar 1-4°C juga membawa dampak mulai dari gelombang panas hingga kelangkaan pangan dan air serta potensi migrasi dan konflik. Ia juga menyoroti bahwa hanya segelintir perusahaan yang menyumbang porsi besar emisi karbon dunia. Dalam kutipan datanya, sekitar 178 entitas perusahaan bertanggung jawab atas hampir 70% emisi bahan bakar fosil dan semen global.
Melalui proyek riset bertajuk “KlimaEvent”, Prof. Kai dan tim mengembangkan lima tahapan proses untuk adaptasi iklim. Mulai dari mengenali dan mengevaluasi dampak yang mungkin terjadi, menetapkan tujuan, menyusun strategi, mengembangkan dan menerapkan langkah mitigasi, hingga mengevaluasi keberhasilan langkah yang telah ditempuh secara berkelanjutan. Ia juga mencontohkan bahwa Jerman memberlakukan Federal Climate Adaptation Act (KAnG), yang merupakan kerangka hukum nasional pertama yang mewajibkan pemerintah federal, negara bagian, serta daerah untuk mengambil langkah antisipatif terhadap krisis iklim.

Menutup paparannya, ia menambahkan bahwa model bisnis tertentu bahkan mungkin harus direlakan di masa depan karena tidak dapat lagi bertahan menghadapi perubahan iklim. Meski demikian, ia tetap optimis dan yakin sekaligus mengingatkan para mahasiswa bahwa solusi untuk mengurangi laju perubahan iklim hakikatnya telah tersedia. Solusi tersebut diantaranya seperti pemanfaatan energi angin, tenaga surya, hingga biogas, yang tinggal menunggu keberanian banyak pihak untuk mengimplementasikannya secara lebih masif.
Melalui Executive Series ini, MBA FEB UGM Kampus Jakarta berharap para mahasiswa dapat memahami lebih dalam akan urgensi isu perubahan iklim dan mampu menerjemahkannya ke dalam perspektif bisnis yang aplikatif. Selain itu, kepekaan terhadap keberlanjutkan dan tanggung jawab pada lingkungan juga dapat dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan strategis mereka.
Humas: Suci Hapsari
Editor: Alfian Rama Aditya